Suka Duka Menjadi Blogger

Ngeblog Karena Nulis atau Duit

Blogger? Bukan itu yang jadi cita-cita saya sejak kecil. Ketika guru bertanya kepada murid-murid di kelas, hampir semuanya menjawab cita-cita yang mungkin tidak asing kita dengar. Ada yang ingin menjadi presiden, dokter, guru, pilot dan saya waktu itu punya cita-cita yang tidak seorang pun menyebutnya. Saya menjawab, “Programmer” dan kata-kata itu sempat terabadikan di album kenangan saat lulus SD dan sekarang entah kemana album itu. Sudah tidak penting, tetapi hanya sebagai kilas balik saja. Itulah efek dari buku-buku yang saya baca ketika SD, kebanyakan tentang komputer.

Ketertarikan saya terhadap dunia komputer bukan tanpa sebab, waktu itu ayah saya membelikan komputer dengan spesifikasi Intel Pentium II. Benda itu menjadi mainan saya ketika SD sampai SMP, sering sekali rusak karena saya mengotak-atik sistemnya. Belajar mengetik di Microsoft Word, menggambar di Paint sampai menjelajah internet di NetScape. Memori yang tidak akan terlupakan, sebuah kenangan di kota yang jauh di sana, mungkin tidak pernah aku harapkan lagi untuk tinggal di sana.

Karena suatu hal, saya tidak bisa memiliki ijazah SMA dan harus puas dengan ijazah SMP. Takdir Tuhan memang unik, sewaktu berbelanja di sebuah toko saya melihat ada buku yang saya lupa judulnya tetapi masih ingat topiknya. Isinya tentang cara mendapatkan uang dari Google AdSense. Waktu itu belum banyak orang tahu kalau internet bisa jadi sumber penghasilan. Internet identik dengan hiburan, membuang waktu dan uang. Bahkan ayah saya sendiri tidak percaya ketika saya mendapatkan dollar pertama dari internet. Ya maklum.

Dan sekarang saya tinggal di sebuah kota yang berjarak ratusan kilometer dari kota yang penuh kenangan itu. Lagi-lagi takdir Tuhan memang tidak bisa ditebak. Bukan untuk kuliah atau pekerjaan, asal pilih saja mau tinggal di kota mana. 10 tahun kemudian cerita kehidupan ini berlanjut dengan segala lika-likunya. Mata pencaharian saya waktu itu hanya dari internet, saat itu sedikit manusia yang punya nyali menggantungkan makan, minum dan tempat tinggalnya dari penghasilan di internet. Tidak ada pilihan bagi saya, bukan orang kaya raya, tidak ada kenalan apalagi koneksi ke orang penting di kota ini. Cari kerja? Hm..saya merasa tidak layak bahkan untuk jadi tukang bersih-bersih, skill saya pas-pasan khawatir malah merugikan orang.

Saya menyebut pekerjaan ini sebagai “Blogger”, seseorang yang menulis atau mengetik sebuah tulisan lalu menguploadnya ke internet. Bukan sesuatu yang mudah, butuh perjuangan untuk bisa menulis dan sampai sekarang saya belum merasa “bisa” menulis. Membuat tulisan yang diabaikan orang jelas lebih mudah daripada tulisan yang menarik rasa ingin tahu pembacanya. Bahkan faktanya saya lebih sering membaca tulisan orang lain daripada menulis.

Penghasilan yang tak menentu dari blog saya anggap sebagai tantangan tersendiri. Terus belajar dan belajar dari orang lain adalah kunci untuk tetap eksis. Dunia internet ini akan terus berkembang, lihat saja sekarang sudah lebih banyak orang yang bisa mendapatkan penghasilan dari internet. Tidak hanya blog, akun sosial media seperti Facebook, Twitter, Instagram dan YouTube bisa menjadi media pendulang uang di internet. Kuncinya satu, semakin banyak pengikutnya otomatis penghasilan akan bertambah. Memang tidak sesederhana itu tapi secara garis besar seperti itu rumusnya.

(Bersambung)

One thought on “Suka Duka Menjadi Blogger

  1. Tetap semangat mas! Namanya wirausaha memang penuh tantangan, kalau mau penghasilan stabil ya jadi karyawan hee. Pekerjaan saya sebagai ahli kunci Jakarta juga bukan tanpa rintangan, apalagi sekarang hampir semua tukang kunci sudah melek teknologi dan menggunakan blog sebagai media promosi online.

Comments are closed.